Posted by: dedywidjaya | August 20, 2009

Seluk Beluk Sedekah (Bag. 1)

Taken from http://pejuangikhlas.wordpress.com/2009/08/19/seluk-beluk-sedekah-bag-1/

SELUK BELUK SEDEKAH (1)

“Boleh ga pamrih sama Allah…?”

Emang boleh sedekah dengan minta-minta sama Allah?

Apa ga pamrih tuh? Bukannya harus ikhlas memurnikan sedekah karena Allah?

Pertanyaan ini seriiiinnnnggg bener ditanyakan. Buat saya, seneng juga jawabnya jika memang ada waktu. Sebab ini bukan saja persoalan sedekah, tp juga persoalan tauhid dan keyakinan kepada Allah.

Allah meminta kita untuk meminta kepada-Nya. Bahkan tidak mengharuskan kita untuk sedekah atau tidak. Artinya, tanpa sedekahpun, meminta diperbolehkan dan menjadi ibadah tersendiri.

Sampe sini, dalam bahasa yang sederhana saya suka mengatakan: Engga sedekah juga boleh minta sama Allah… Artinya, bila tanpa sedekah kita boleh meminta, mestinya, dengan bersedekah kita tambah lagi boleh meminta. Sebab permintaan kita disertai sedekah sebagai amal saleh.

Ada yg kemudian nanya, terus, niatnya apa? Sedekah supaya bisa punya mobil? Tanya yg bertanya sambil terpingkal-pingkal sendiri. Masa iya sih boleh sedekah supaya bisa punya mobil? Wuah, saya mah istiqamah saja dengan jawaban saya. Sekali lagi, sekedar berdoa supaya bisa punya mobil saja, boleh. Apalagi jika didahului sedekah.

Cobalah buka mata hati sebentar untuk gagasan ini, pemikiran ini, pendapat ini. Jangan buru2 ditolak. Kalau dari awal udah nolak, ya susah. Coba ya, ikuti penjelasan ini sebentar.

Saya tahu, barangkali sang penanya tidak menduga jika candaannya ini dibawa ke penjelasan serius. Penjelasan yang bisa jadi membawa si penanya malah benar-benar bisa punya mobil beneran, jika belom punya.

Coba, sekarang, koreksi kalimat saya: “Ya Allah, besok udah mau puasa. Habis puasa, datang lebaran. Saya kepengeeeeennn sekali memuliakan orang tua. Ingin memanjakan orang tua, dan membahagiakan orang tua. Ya Allah, dulu ketika orang tua saya gagah, usianya masih muda, pulang kampung berhimpit-himpitan ga masalah ya Allah. Pulang kampung macet2an di dalam bus, atau kereta, ga ada masalah ya Allah. Tapi sekarang, dengan usianya yang senja, itu menjadi masalah. Ya Allah, berikanlah saya mobil. Buatlah saya memiliki rizki untuk bisa beli mobil. Agar saya persembahkan mobil itu kepada orang tua saya, dan kemudian beliau-beliau bisa pulang kampung dengan nyaman dengan mobil itu. Ya Allah, bila Engkau menyuruhku untuk meminta, kepada-Mu yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah, maka sekarang inilah saya meminta kepada-Mu. Saya memohon kepada-Mu agar mobil itu bisa saya beli sebelom hari raya tiba. Ya Allah, kabulkan lah doa saya ini. Saya kepengen melihat orang tua saya tersenyum bahagia melihat saya membawa mobil ini ke hadapannya dan mengatakan bahwa besok mobil ini akan mengantarkan emak dan bapak pulang kampung, berziarah ke makamnya eyang. Ya Allah, terbayang bahwa emak dan bapak saya akan tidur terlelap tanpa khawatir copet, maling, ga usah berpeluh2 keringatan, keletihan. Sebab naik mobil sendiri. Jika beliau mau singga sebentar ke rumah makan yg disukai, beliau tinggal berbisik kepada supirnya ini mobil. Jika beliau ingin shalat di tengah perjalanan, pun beliau tinggal berbisik pula kepada ini supir. Ya Allah, belom lagi Engkau kabulkan doa ini, Engkau sudah memberikan saya kebahagiaan. Saat saya berdoa ini, Engkau membuat diri saya ini tersenyum sendiri. Bahagia. Seakan2 Engkau sudah sungguhan memberikan saya dan orang tua saya, mobil. Makasih ya Allah…”.

Doa ini saya bacakan kepada yang bertanya, dan mengatakan kepada dia, boleh ga saya berdoa seperti ini? Berdoa minta mobil? Rasanya, sulit bagi dia untuk menjawab tidak boleh. Ada kesantunan tentu saja di dalam doa ini. Begitu pun saya. Ketika saya menyeru kepada diri saya dan jamaah semua, ayo, bersedekahlah, dan berdoalah kepada-Nya, untuk setiap hajat dan keinginan, kesulitan dan permasalahan hidup. Tentu saja terkandung di dalamnya kesantunan di dalam doa. Bukan seperti memberi dengan kasar kepada Allah, lalu berkata kasar pula kepada Allah, Hei, berilah aku mobil. Alu sudah bersedekah kepada-Mu. Ya, tentu saja bukan doa seperti ini yang saya maksudkan. Berdoalah seperti biasa. Namun hantar doa itu dengan amal saleh, sebelum dan setelahnya. Sedang sedekah, adalah bukan satu2nya amal saleh. Ia hanya satu dari sejuta amal saleh yang bisa dipilih oleh kita.

Saudaraku semua. Bahkan di dalam doa tadi, sudah ada amal saleh loh. Tahukah saudara, apa amal saleh di dalam doa tadi? Nawaitu membahagiakan orang tua. Ya, nawaitu membahagiakan orang tua, adalah amal saleh dari sebuah niatan baik. Dan insya Allah, doa itu “tidak berdiri sendiri”. Doa itu dihantar, dibungkus, dengan amal saleh yang begitu indah. Dia meminta mobil, bukan untuk dirinya, melainkan untuk emak dan bapaknya. (Bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: