Posted by: dedywidjaya | July 23, 2009

Interview Dengan Ustadz Yusuf Mansur

Taken from http://anotherfool.wordpress.com/2006/01/10/interview-dengan-ustadz-yusuf-mansur/

Catatan: Wawancara ini dilakukan via telepon pada hari Senin, 9 Januari 2006, sehubungan dengan penayangan perdana Sinetron “Maha Kasih” yang digagas oleh Ustadz Yusuf Mansur bersama dengan SinemArt dan RCTI. Ulasannya dapat dibaca di sini. Terimakasih kepada Ustadz Yusuf Mansur yang telah bersedia di wawancarai.

Apa sebenarnya misi sinetron ini, yang membedakannya dengan sinetron lain?

Kalau sinetron lain mungkin bertutur supaya orang menghindari perbuatan buruk. Kalau Maha Kasih lebih tajam lagi kepada supaya mendorong orang melakukan perbuatan baik. Dan kebetulan sinetron ini oleh Sinemart di usung istimewa. Jadi produsernya, Pak Leo Sutanto dan Pak Heru membesut ide-ide ini dan skenarionya ditulis oleh Imam Tantowi, seorang penulis skenario senior di Indonesia, ditambah pula dengan Ibu Hajjah Ida Farida. Pemain-pemainnya pun pemain papan atas. (Red: Mat Solar, Marshanda, Tora Sudiro, Desy Ratnasari, Didi Petet, Krisha Mukti dll). Jadi kami ingin menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Kebetulan ini menjadi salah satu pionir di tanah air setelah Kiamat Sudah Dekat. Jadi menjadi warna sendiri. Misinya adalah supaya orang tergerak melakukan perbuatan baik.

Dari mana anda mendapat ide cerita?

Setelah saya keluar dari penjara yang kedua kalinya di tahun 1999, saya berinteraksi dengan sedekah. Ketika saya membuka klinik konseling dan spiritual dari satu daerah ke daerah lain selama lima tahun saya dan teman-teman di pondok pesantren dan majelis bergerak melayani masyarakat, membantu keinginan mereka dengan jalan bersedekah. Saya dan kawan-kawan menjadi kaya dengan testimoni sedekah.

Contohnya saja tentang seorang perempuan berusia 37 tahun yang tidak kunjung dapat jodoh. Setelah balik dari berkonsultasi dengan kami dia langsung mampir ke masjid terdekat dan menanyakan apa yang bisa disumbangkan. Kebetulan masjid tersebut perlu donatur untuk lantai yang sedang di lelang. Permeternya 150 ribu. Si perempuan yang sudah 37 tahun belum punya jodoh itu bersedekah 600 ribu atau empat meter lantai. Subhanallah, dalam seminggu setelah itu, ada empat orang yang melamar dia.

Nah kisah-kisah ini bisa menjadi baik kalau kita sampaikan pada orang lain supaya orang lain tergerak. Jadi kita memberi contoh. Dalam ucapan saya saja sudah menggerakkan, apalagi dalam visualisasi.

Alhamdulillah, banyak testimoni dari daerah-daerah. Sejauh ini kami sudah menyiapkan 50 naskah yang sudah siap diangkat ke layar kaca. Target awal Cuma 13 episode, tapi pihak stasiun membuka diri selebar-lebarnya. Yang penting masyarakat masih menghendaki. Dan kita tidak akan berubah jalur. Saya memilih mundur kalau begitu..

Ada contoh testimoni lain yang akan disinetronkan?

Kisah lain diperankan oleh Syahrul Gunawan yang diambil dari buku saya berjudul Manusia Berbuat, Tuhan Bercanda.

Jadi suatu hari ada anak muda, karyawan. Dia lari pagi. Kemudian dia lihat ada rumah dijual dengan harga 100 juta. Dia ketok pintunya. Keluar ibu-ibu pemilik rumah. Diapun bertanya. Si karyawan menanyakan apa rumah itu betul-betul dijual. Dia bilang iya. 100 juta. Si karyawan bilang, nanti kalau ada duit saya balik.

Beberapa hari kemudian si anak muda kedatangan tamu yang tak lain adalah kawan bapaknya yang banyak sekali budinya ke si bapak. Orang ini menitip surat yang intinya meminta uang 10 juta. Si anak muda ini tahu bahwa bapaknya tidak punya uang. Maka ia memilih mendiamkan surat ini dengan kebingungan. Kalau disampaikan ayahnya bingung, tapi kalau tidak disampaikan ini amanah.

Akhirnya setelah berhari-hari dia diamkan surat ini, dia memutuskan sesuatu yang hebat. Sesuatu yang menurut Allah adalah terbaik seperti tercantum di Ali Imron ayat 92 yang menyebutkan kita akan diberi yang terbaik oleh Allah kalau kita juga memberi yang terbaik. Ternyata si anak muda ini memilih menjual motornya. Motornya Honda Tiger dijual seharga 14 juta. Empat juta dibelikan motor yang lebih murah, yang sepuluh juta diberikan pada teman bapaknya itu.

Setelah itu dia dipindahkan kerja. Di sana dia kenalan dengan seorang perempuan yang belakangan menjadi istrinya. Dan dia adalah anak dari si ibu yang rumahnya di jual itu.

Apakah semua ini kisah nyata?

Betul! Insya Allah ini live testimonial. Insya Allah. Hanya ada etika saja kita tidak bisa memberi tahu, menghindari hal yang tidak di inginkan. Jadi ini bolehlah saya bilagn 50 persen ketika sudah naik ke sinetron idenya nyata. 50 persen lagi tentu bumbu. Jadi kisah semalam ketika ada haji yang kelihatannya tokoh konflik, itu diciptakan supaya unsur konflik di sinetron itu tetap ada.

Bagaimana meyakinkan kalau ada yang menganggap bahwa hal seperti ini tidak logis dan menganggap bahwa ini hanya kasus tertentu yang mungkin memang begitu garisnya. Bagaimana menjelaskan pada semua orang bahwa ada sesuatu yang tidak dijelaskan tapi bisa terjadi?

Kalau dalam urusan sedekah itu kita bicara doing is believing. Lakuin saja nanti elo pada percaya. Saya menulis buku berjudul 5+1 yang berisi cerita-cerita yang mengagumkan. 5 + 1 itu artinya begini. Satu kita kudu tahu bahwa setiap kebaikan itu betul-betul akan berbuah kebaikan, termasuk sedekah. Yang kedua setelah tahun kita harus yakin. Habis yakin kita harus amalkan sendiri. Kenapa harus diamalkan? Untuk membuktikan kebenarannya itu! Yang ke lima kita harus rasakan sendiri. Yang ke enam adalah ceritakan apa yang kita lakukan. Karena saya tahu, yakin, membuktikan dan merasakan baru diceritakan baik lewat taushiyah ataupun lewat visualisasi sinetron didukung oleh teman-teman Sinemart dan RCTI.

Perkara kemudian apakah orang mau mengikuti, itu menjadi terserah mereka. Mau melakukan mereka untung, tidak mau tidak ada pilihan buat mereka. Karena kalau mau masalahnya selesai, keinginan tercapai, mereka harus berbuat baik dan berhenti menjadi yang buruk.

Bagaimana menghindari kemungkinan bahwa orang kemudian tidak akan berusaha dan selalu berharap pada mukjizat.

Lho, usaha orang yang bermasalah itu, mendekatkan diri kepada Allah itu usaha. Tidak bisa dibilang tidak usaha. Secara psikologis misalnya begini, istri anda sedang sakit di rumah sakit. Kemudian Allah dan rasulnya menawarkan, kalau istri mau cepat sembuh segera berbuat baik pada orang lain. Nah anda kemudian berjalan dengan istri yang sedang sakit itu menyambangi orang-orang yang sudah mau dipotong kakinya, orang yang sudah nafasnya sudah mau mati, seketika itu menjadi obat juga. Dan itu adalah usaha. Dalam artian menyadari mereka sakit tapi tak punya duit buat berobat. Saya sakit, istri saya sakit tapi bisa ke rumah sakit manapun mampu. Orang lain sakit, tidak punya cucu, tidak punya anak, kerabat di sekitar tempat tidur dia. Saya sakit, subhanallah banyak orang di sekitar saya. Itu sudah menjadi obat. Makanya ada efek psikologis yang mungkin Allah dan rasulnya tidak mensyiarkan secara langsung. Kitalah yang merasakan. Kita punya hutang 70 juta. Rasul bilang, sudahlah, jalan ke warung-warung kecil, ke tetangga, kasih mereka makan. Kemudian kita jalan dan menyadari bahwa kita punya utang 70 juta tapi masih bisa makan. Akhirnya kepercayaan diri kita tumbuh. Ketenangan ada. Begitu kepercayaan ada, ketenangan ada, kita bisa memulai lagi hidup yang baru. Hidup dengan jiwa yang segar, pemahaman yang baik terhadap kehidupan ini.

Ada tanggapan atau komentar dari penonton?

Komentarnya menarik-menarik. Bahkan mengharukan buat saya. Ada yang nonton kemudian paginya daftar haji, ada yang langsung mengajak ibunya berhaji. Saya bacanya menetes air mata saya. Ada yang mengaku, masya Allah, sudah lama saya tidak bersedekah. Jadi malam itu selesai menonton dia pergi keluar rumah mencari orang-orang yang bisa dia sedekahi karena takut keburu mati. Nah efek seperti inilah yang kita ingin supaya terjadi gelombang kebaikan di tanah air sehingga negeri ini menjadi baik.

Perasaan anda setelah dapat masukan dari penonton?

Inilah pentingnya berbuat baik supaya kita sendiri jadi bahagia. Kebahagiaan itu bukan pada menerima tapi pada memberi. Saya bismillah, ini adalah sedekah saya juga, gitu kan. Sedekah ide cerita, sedekah pikiran, sedekah tenaga. Ketika dapat respon dari masyarakat, saya tidak berpikir ingin mendapatkan popularitas. Saya berpikir tentang bahwa saya sudah masuk di mata rantai kebaikan. Jadi demi Allah ketika ada orang bilang ustad, saya daftar haji besok, saya merasa itu adalah ibadah saya dan teman-teman lain juga yang ikut mengusung sinetron ini. Allah mengatakan dalam surat An Nisa ayat 85 bahwa perbuatan baik itu bukan pada yang kita lakukan saja tapi yang orang lakukan gara-gara kita mendorong perbuatan baik itu menjadi ada. Jadi rasanya bahagia betul hati ini terutama ketika saya melihat hasilnya seperti tidak percaya bahwa ini kerja tim yang betul-betul mengagumkan. Kisahnya betul-betul mengharukan dan membuat orang menjadi termotivasi. Nggak menyangka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: