Posted by: dedywidjaya | July 14, 2009

Genapkan Sedekah dengan Amal Sholeh

Taken from : http://pejuangikhlas.wordpress.com/2009/07/10/case-12-kuliah-online-tauhid/

Bapak Sedekah

Bapak Sedekah

Kuliah Online Wisata Hati, Case 12 – Menggenapkan Dengan Amal Lain

Bila sedekah dirasa tak cukup menghantarkan hajat,

bolehlah mengikutinya dengan amal-amal saleh yang lain.

Seorang anak muda, punya hutang 50 juta.

Dari hitung-hitungan matematika sedekah 10%-an, ia mengambil ancang-ancang untuk sedekah 5 juta.

Tapi Ia lihat uangnya. Tidak cukup.

Hanya 100 ribu.

Tapi ia berhusnudzdzan kepada Allah Tuhannya, bahwa mudah-mudahan 100 ribu inilah sedekah terbaiknya. Tidak perlu menunggu sampe 5 juta. Toh Allah melihat keikhlasan seseorang.

“Bukan nilainya”, begitu ia meyakini dirinya.

Sebelum jalan, tidak lupa ia berdoa kepada Allah. Agar Allah kiranya menerima amalnya dan mencukupkan amalnya ini dengan Kasih Sayang-Nya.

Ia pun menempuh amal-amal yang lain, agar kiranya Allah genapkan kekurangan amalnya ini, dengan amal-amal yang lain; Shalat sunnah dhuha, shalat sunnah tahajjud, baca al Qur’an, cium tangan orang tua, minta doa sama guru, dll.

Di sepanjang jalan kaki menuju si yatim, ia berzikir.

Amalnya memang hanya 100 ribu, dari “mestinya” 5 juta. Tapi ia betul-betul berupaya menggenapkan dengan amalnya yang lain. Ia berhusnudzdzan bahwa Allah berkenan menganggap sedekahnya sebagai sedekah terbaiknya. 100 ribu itulah yang ia sanggupi. 100 ribu itulah yang ia mampu. Tapi ia berkenan menambahnya dengan amal-amal saleh lain. Dan ia melakukannya.

Di dalam kehidupan nyata di dunia sedekah, Allah benar-benar bukan melihat jumlah. Tapi kalimat ini bila kita pun adil. Maksudnya adil, begini misalnya: Kita sakit sudah habis ratusan juta rupiah. Lalu datang tawaran Rasulullah, daawuu mardhaakuum bish shadaqah, obati penyakit kamu dengan sedekah. Lalu kemudian bersedekahlah kita. Namun kita keluar “hanya” 200 ribu. Rasanya, yang begini ya ga pas lah. Kalaunya kayak tadi: 100 ribu yang hanya ia punya, lalu ia sedekahkan semuanya. 100 ribu – 100 ribu nya, ini hebat namanya. Boleh jadi buat kita tidak ada nilainya, tapi sunggu ia bernilai sangat besar.

Saya sering SMS ke kawan-kawan dan menanamkan kepada diri sendiri juga, kawal sedekah kita itu dengan amal-amal saleh lainnya. Andai ia memang tidak cukup hitungannya untuk mengantarkan kita kepada kesulitan dan hajat kita, ia kemudian bisa genap dengan amal-amal saleh lainnya itu.

Contoh agak konkret saya sempet goretkan ketika mengajarkan diri ini dan jamaah “matematika sedekah”.

Syahdan ada seorang karyawan yang bergaji 1 juta. Lalu ia sedekah 2,5% dari gajinya atau 25 ribu. Sementara itu ia punya pengeluaran 1,5 juta. Setelah ia sedekah, ia merasa ga ada yang berubah. Gajiannya tekor terus. Ga cukup terus. Lalu bertanyalah ia, kenapa ya? Koq setelah sedekah tetap saja kurang? Jawaban kalo agak pedes mah: “Ya terang aja, wong sedekahnya kurang”. Jawaban yang agak adem: “Coba tingkatkan sedekahnya ya. Diperbesar. Seperti premi angsuran. Makin besar preminya, makin besar yang dicovernya”.

Sedekah 2,5% dari 1 juta itu adalah sebesar 25 ribu. Kalo pake matematika sedekah, maka sedekah 2,5%nya itu akan mendatangkan rizki sebesar 250 ribu. Kita lihat lalu matematikanya:
1.000.000 – 25.000 = 975.000
975.000 + 250.000 = 1.225.000
Jika pengeluarannya sebesar Rp. 1,5 juta, maka ia masih kurang Rp. 375.000,-. Itu kalau dia ga ada dosa. Kalau ada dosa, maka bertambah-tambahlah kurangnya.

Yang aman, begitu saya menulis di buku an Introducing to The Miracle of Giving, perbesar sedekahnya. Keluarkan 100 ribu atau 10% dari gaji 1 juta tersebut. Sehingga hitungannya menjadi begini: 1.000.000 – 100.000 = 900.000. Berkurang memang. Tapi yang 100 ribu itu dikembalikan lagi oleh Allah sepuluh kali lipat, atau hasil akhir menjadi 900.000 + 1.000.000 = Rp. 1,9 juta. bila pengeluarannya Rp. 1,5 juta, maka berarti lebih 400 ribu. 400 ribu inilah yang mengcover hal-hal lain macam kecelakaan, ketipu, dll.

Tapi di edisi Case 12 ini, baiklah anggap ia bener-bener ga ada lagi yang bisa ia sedekahkan kecuali 2,5% tadi, atau 25 ribu. Ya ga apa-apa juga. Tapi lengkapi, genapkan, kawal, dengan amal-amal saleh lainnya. Hingga kemudian ia menjadi genap atau bahkan malah lebih.

Semua perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan juga yang wujudnya adalah kebaikan-kebaikan di dunia yang kita butuhkan yang kita perlukan. Insya Allah. Dalam kehidupan riil, ada orang-orang yang sedikit sedekahnya. Namun karena hebat amal-amal lainnya, maka kemudian jalan hidupnya lancar. Ada masalah, tapi segera ada jawabannya. Ada kesulitan, tapi ga lama datang kemudahan.

Dalam pada itu, kita “punya hak” berdoa agar Allah membayar tidak 10x lipat. Tapi 700x lipat atau bahkan lebih. Hanya pesan saya, bener-bener tahu diri. Kalo bisa, ya kita bener-bener paksakan diri kita untuk memperbesar sedekah kita. Sementara amal-amal saleh lainnya pun tetap saja kita kerjakan untuk memperbesar amal saleh kita. Sebab sesungguhnya tiada yang kita bawa pulang ke negeri akhir kecuali amal saleh sahaja.

Semua yang kita kumpulkan di dunia ini, fana. Tak akan ada yang kita bawa, kecuali kita jadikan ia bermanfaat. Fa-inna khairuz zaadit taqwaa, fattaquunii yaa ulil albaab, Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa; maka bertaqwalah wahai orang-orang yang berakal. Dan disebut bertaqwa itu ialah mengerjakan sebaik-baiknya perbuatan-perbuatan yang diseru Allah, dan menjauhi sekuat-kuatnya apa-apa yang dilarang Allah.

Kepada Allah kita semua memohon taufiq dan hidayah di dalam mengarungi hidup ini agar selamat dunia akhirat kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: