Posted by: dedywidjaya | June 12, 2009

Sedekah Dengan Uang Biaya Haji

(Syamsul Rijal Hamid)

Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah

Sewaktu melakukan perjalanan haji ke kota Mekkah, Abdullah bin Mubarak singgah di kota Kufah. Suatu saat, di kota itu, ia melihat seorang wanita memungut bangkai ayam di tempat sampah kemudian mencabuti bulu-bulunya.

“Ayam ini bangkai atau sudah disembelih,” tanya Abdullah bin Mubarak.

“Bangkai,” jawab wanita itu jujur. “akan aku makan bersama anak-anakku.”

“Mengapa? Bukankah Rasulullah Saw telah mengharamkan daging bangkai?”

“Ya. Apa boleh buat?”

“Ceritakanlah perihal dirimu, kenapa engkau berani melanggar ketetapan Rasulullah?” pinta Abdullah bin Mubarak.

Semula wanita itu menolak untuk berterus terang. Namun karena berkali-kali Abdullah mendesak, akhirnya ia menceritakan tentang keadaannya.

“Sudah tiga hari ini aku dan anak-anakku tidak makan.”

Mendengar penuturan itu, Abdullah segera menuju perkemahannya. Kemudian ia tuntun keledai dan perbekalannya ke rumah wanita tadi. Lantas menyerahkannya.

“Janganlah engkau memakan bangkai yang diharamkan itu,” jujar Abdullah bin Mubarak.

“Sebagai ganti, terimalah uang, makanan dan pakaianku.”

Wanita itu termangu tidak percaya.

“Ambillah, “suruh Abdullah.”Berikut keledai dan perbekalan yang ada dipunggungnya.”

Akhirnya wanita itu menerima sedekah Abdullah.

Abdullah lantas menetap di kota itu beberapa waktu lamanya, karena sudah tidak punya bekal untuk melanjutkan perjalanan hajinya. Setelah tiba waktunya orang-orang yang naik haji pulang ke negeri masing-masing. Abdullah juga kembali ke negerinya.

Sesampainya di rumah, berdatanganlah para tetangga dan sanak keluarganya memberi ucapan selamat. Tidak kecuali mereka yang menunaikan ibadah haji pada waktu itu juga.

“Jangan ucapkan selamat kepadaku,” cegah Abdullah. Lalu tanpa malu-malu ia katakan “Tahun ini aku tidak pergi haji.”

“Maha Suci Allah.” Sebut salah seorang diantara tamu-tamunya. “Bukankah engkau membawa titipan uangku dan aku ambil kembali ketika kita bertemu di Arafah?”

“Malahan engkau juga memberi minum aku sewaktu kita bertemu di Mekah?” kata yang lain memberikan pengakuan.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung mendengar ucapan-ucapan mereka. “Sungguh, aku tidak jadi ke Mekah,” bantahnya ngotot.

“Subhanallah. Bukankah engkau juga membawa air zam-zam untukku? Kata tamu yang lain lagi mengingatkan.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua yang kalian katakan.” Bantah Abdullah serius.

Pada malam harinya, kala tertidur pulas, Abdullah bermimpi mendengar suaragaib. “Hai Abdullah, Allah Swt menerima sedekahmu. Kemudian Dia menyuruh seorang Malaikat menyerupainya untuk menggantikanmu melaksanakan ibadah haji.”

Taken from : http://www.geocities.com/tethypermanasari/kisahsedekah.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: